Emas Tembus US$5.500 & Perak Melejit 145%: Fenomena Fundamental atau Gelembung Likuiditas?
JAKARTA – Pasar logam mulia global kembali diguncang rekor baru. Pada perdagangan Kamis (29/1/2026), harga emas dan perak mencetak sejarah tertinggi, memicu perdebatan sengit di kalangan analis dunia mengenai kewajaran harga komoditas saat ini.
Rekor Baru: Emas US$5.500 dan Perak yang Tak Terbendung
Berdasarkan data LSEG, emas spot melonjak lebih dari 3% ke level US$5.501,18 (sekitar Rp86,4 juta) per ons troi. Tidak mau kalah, perak mencatatkan reli spektakuler dengan menembus level US$119,3 per ons.
Fenomena ini menjadi sorotan utama karena perak telah mencatatkan kenaikan fantastis lebih dari 145% sepanjang tahun 2025 dan masih terus mendaki sekitar 65% hanya dalam satu bulan pertama tahun 2026.
Analisis: Mengapa Harga Logam Mulia Meroket?
Kenaikan ini tidak terjadi di ruang hampa. Berikut adalah beberapa faktor utama yang mendorong “demam logam” global:
-
Aset Lindung Nilai (Safe Haven): Ketegangan geopolitik dan lonjakan utang pemerintah global memaksa investor mengamankan kekayaan mereka di aset yang tidak bisa dicetak oleh bank sentral.
-
Akumulasi Bank Sentral: Pembelian emas secara masif oleh bank-bank sentral dunia terus memberikan lantai harga (price floor) yang kuat.
-
Permintaan Industri (Khusus Perak): Transisi energi hijau, terutama pada sektor panel surya dan komponen elektronik, menciptakan defisit pasokan fisik pada perak.
-
Pelemahan Mata Uang: CEO Galena Asset Management, Maximilian Tomei, menegaskan bahwa lonjakan ini lebih mencerminkan depresiasi mata uang fiat dibandingkan kenaikan nilai intrinsik logam itu sendiri.
Pasar Mulai “Kacau”: Waspada Volatilitas Ekstrem
Meskipun terlihat menguntungkan bagi pemegang aset, para ahli mulai menyuarakan alarm waspada. Nicky Shiels dari MKS PAMP menyebut pasar saat ini berada dalam kondisi “kacau” akibat volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Pergerakan harga saat ini lebih dipengaruhi oleh arus likuiditas global ketimbang penawaran dan permintaan fisik,” ungkap laporan tersebut.
Pasar perak dan platinum yang relatif kecil sangat rentan terhadap arus modal spekulatif. Ketika valuasi aset lain (seperti saham atau properti) dianggap terlalu mahal, modal besar “parkir” di logam mulia, mendorong harga jauh melampaui nilai fundamentalnya.
Topik Menarik untuk Disimak: Apa Selanjutnya?
Untuk memahami arah pasar ke depan, berikut adalah beberapa poin diskusi yang menjadi perhatian para investor:
1. Risiko Koreksi Tajam (Bubble Burst)
Dengan kenaikan ratusan persen dalam waktu singkat, risiko koreksi teknis sangat besar. Jika likuiditas global menyusut akibat kebijakan moneter ketat yang tiba-tiba, harga logam yang digerakkan oleh spekulasi bisa jatuh secepat saat ia naik.
2. Pergeseran Paradigma Investasi: “Digital vs Fisik”
Di tengah harga emas yang selangit, apakah investor ritel akan mulai beralih ke fraksionalisasi emas digital atau justru kembali ke aset kripto sebagai alternatif “emas digital”?
3. Kelangkaan Pasokan Fisik
Guy Wolf dari Marex menyoroti bahwa kapasitas produksi tambang tidak bisa meningkat secara instan. Jika permintaan industri terus naik sementara pasokan stagnan. Harga tinggi mungkin akan menjadi “normal baru” (new normal) meski volatilitas tetap tinggi.









